Bagaimana mengatasi permasalahan sampah di Tangsel?

 

Sampah di Tangsel sudah mendekati 1000 ton per hari. Tangsel memiliki TPA Cipeucang yang berada di kelurahan serpong, namun hanya mampu menampung 300 ton per hari. Swasta juga ikut menampung sampah namun jumlahnya tidak ada data pasti, ada yang bilang 50 ton per hari. 

 

Nah sisanya sebanyak lebih dari 500 ton per hari sampah di Tangsel kita tidak tau dikemanakan, apakah dibakar atau di buang tanah kosong, kerumah kosong, tempat buang sampah liar bahkan dibuang ke sungai. Kalau pun semua itu diangkut, Cipecang  gak akan bisa menampung.

 

Solusi yang sudah ada:

Selama ini solusi dari Pemkot Tangsel adalah menjalankan perintah dari pemerintah pusat untuk membangun PLTSA. Di media infonya sudah ada tender tapi sampai sekarang tidak ada progressnya seperti apa.

 

https://wartakota.tribunnews.com/2020/02/04/atasi-persoalan-sampah-pemkot-tangsel-putuskan-segera-bangun-pltsa-di-tpa-cipeucang

https://nonstopnews.id/post/pemerintah-pusat-apresiasi-pemkot-tangsel-bangun-pltsa

https://industri.kontan.co.id/news/paruh-kedua-2019-ada-tiga-kota-yang-menggelar-lelang-proyek-pltsa



Menurut ku PLTSA ini harus dipertanyakan. Tarif nya berapa? kalau berdasarkan pepres atau kepres itu 13 sampai 35 sen dolar per KWH, ini sudah disepakati atau belum tipping fee sudah disepakati atau belum. Sampah masuk ke Cipeucang itu ada tonasenya kan, pemda itu harus bayar ke pengelolanya. Katanya PLTSA nya 1,7 triliun estalasi pembangunan itu biayanya dari mana kita ga tahu. Arahnya seperti apa kita juga tidak tahu. 

 

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya adalah: 

PLTSA itu apakah bisa mengelola sampah lama, sampah yang sudah hancur berhumus jadi kaya jadi busuk itu seperti apa diapain, itu harus diambil langkah serius. Kenapa langkah serius, karena bau sampah itu sudah menyebar 4 sampai 5 kelurahan sekitar Cipeucang. 

 

Yang terdampak kelurahan keranggan, kademangan, setu, serpong dan bahkan sebagian cilenggang. Karena angin kan bertiup kemana-mana jadi bau sampah, dan sangat mengganggu warga bertahun-tahun.

 

Seharusnya, saat PLTSA sampah ini deadlock, pembicaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta PLN ini harus segera mengambil langkah nyata. 

 

Langkah nyata saya:

 

Segera membangun incinerator saja apabila PLTSA tidak juga berjalan, incineratornya menggunakan teknologi terkini sehingga dioksin (asap pembuangan buruk) tidak keluar. Tujuannya adalah menghabiskan sampah di Cipecang secepat-cepatnya sehingga baunya tidak menyebar keluar. 

 

Incinerator ini bisa menghabiskan sampah lama maupun sampah baru. Mengapa, kerena proses melakukan sosialisasi pemilahan sampah butuh waktu, sementara masalahnya jangka pendek. 

 

Setelah ini berjalan, pararel dengan ini, kita melakukan pertemuan dan sosialisasi dengan waraga  ke kampung-kampung, perumahan pentingnya memilah sampah. Mengapa penting karena sampah yang dihasilkan masyarakat itu 70 persennya sampah organik, karena itu memilah sampah jadi penting. 

 

Yang non-organik dipisahkan antara yang punya hargadan bernilai ekonomis bisa ditukar dengan uang dan yang Organik itu diselesaikan dengan dua hal: pertama decomposer  dan kedua menggunakan Black Soldier Fly.

 

Yang plastik dan tidak ada harganya akan dihancurkan menggunakan teknologi namanya Pirolisis sekarang mungkin masih mahal, tapi itu masa menjadi depan pengolahan sampah dan pasti akan terjadi.

 

Prioritas saya jangka pendek di periode pertama itu harus menghabiskan sampah di Cipeucang dulu sehingga tempat pembuangan sampah sementara ilegal itu bisa masuk ke Cipecang. 

 

Saya tengarai di tangsel itu ada ratusan pembuangan sampah liar atau illegal. Itu terjadi kerena Cipeucang tidak mampu untuk menampung, tapi kalau misalnya dari incinerator bisa menghabiskan 500 ton sampah per hari, nah sampah barunya bisa lebih banyak masuk kesana. 

 

Pada saat masuk ke sana daerah sudah mulai bersih dikampung-kampung di perumahan, baru kita berbicara ke warga tentang pemilahan sampah secara parael dan berjalan berbarengan. Sampah itu juga bisa menghasilkan pendapatan untuk masyarakat selain dari bank sampah di daerah padat penduduk dimana truk tidak bisa masuk itu harusnya pemerintah kota meyewa grobak atau motor roda tiga milik masyarakat. Bisa dari karang taruna, remaja masjid dll, sehingga mereka juga ada sumber pendapatan. Kita juga bisa menggandeng swasta untuk menyediakan truk dan Pemkot sewa ke mereka.