Untuk masalah air, bagaimana solusinya?

Kebutuhan air di Tengsel menurut Data PUPR 144 – 150 liter per kapita per hari (http://tiny.cc/dljyjz ) , jadi untuk 1,7 juta penduduk dibutuhkan sekitar 93 – 95 miliar liter per tahun air yang dikonsumsi. 

 

Berarti Tangsel harus menyediakan air sebanyak itu. Sebagian besar warga mengambil air tanah sebagian lagi PDAM yang dikelola oleh perumahan yang juga diambil dari air tanah, jadi tidak ada PDAM yang tersentralisasi memenuhi semua kebutuhan Tangsel. 

 

Sekarang, Pemkot Tangsel sedang membuat PDAM di Parakan dengan debit air 200 liter/detik (http://tiny.cc/6wjyjz ) yang sumber air bakunya diambil dari kali Angke yang kualitasnya sangat buruk (data dari BKPSL /Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan)  

 

Di Tangsel setiap musim kemarau selalu kekeringan, musim hujan kebanjiran, titik banjirnya banyak sekali berita kemarin genangan ada lebih dari 100-an (http://tiny.cc/jdkyjz ). 

 

Solusi:

Untuk penyelesaian banjir tidak bisa dilakukan oleh Tangsel saja, harus dilakukan #Bersama antara Kabupaten Bogor, Tangsel, kota Tangerang dan Jakarta. Arus sungainya diperbaiki, jalur serapan di kanan kirinya dikerjakan #Bersama, jadi harus bekerjasama.

 

Untuk menghadapi kekeringan terutama didaerah padat penduduk, itu harus ada sentuhan dari Pemkot bekerjasama dengan kampus-kampus di Tangsel untuk membuat teknologi menyerap air hujan ke dalam tanah, menjadi cadangan air disaat musim kering. 

 

Memanfaatkan teknologi yang dibuat oleh kampus-kampus di Tangsel seperti Sumur Biopori, Sumur Artesis, Injection Pipe, itu akan diuji oleh kampus, karena tiap daerah mempunyai keunikan. 

 

Itu akan difokuskan ke daerah yang rawan kekeringan dan juga kerap kebanjiran. Dua titik yang paling ekstrim itu yang akan dikerjakan dengan program ini.